Rumahku Seluas Kebun Raya Cibodas

Hai sedang apa? 
Pesan baru untukmu hari ini :
 
Yogyakarta, 1 Dec 2024. 
Disudut kota magelang. 
Ditengah gerimis malioboro. 
Setelah makan dimsum, ditengah rintik gerimis dan lalu lalang delman malioboro. 
Hati dan pikiranku disudut kamar yang gelap.
Terbang. 

"12 jam saja, lewat jalur utara" 
Terngiang, 5 hari selama ku di Jogja. 
Sepertinya bukan ide yang buruk setelah hari ini :) 
Sakit pinggang pasti tidak berarti lagi. 

Apa kamu akan mengingat Jogja selayak cita-cita yang kita harus kubur dalam-dalam? Bagaimana?
Apa kamu akan mengingatku ketika berhenti di family mart disudut kotamu? 
Bagaimana rasanya? 
Rindu atau pilu? 
Apa hatimu tertusuk ketika melihat deretan ikan hias di pasar ikan itu? 
Apa kakimu berhenti sesaat saat melihat tumpukan ice cream mochi di indomaret? 
Disudut-sudut indomaret point, di setiap wangi parfumeku yang tertinggal dipelukmu? 
Mudah sekali menemuiku. 
Aku ada disetiap inch di ingatanmu. 
Apa kamu merasakan penderitaan yang sama denganku? 
Yang setiap detiknya, penderitaan itu membunuh hasrat hidup dalam tubuhku. 
Rinduku selalu. Ditiap debar di dadamu. 
Atau keadaanmu jauh lebih baik karena ada lingkar tangan yang mengelilingi dadamu itu? 
Setiap saat aku mengingat, aku terganti. 
Perlahan rasa cinta dihatimu untukku, mungkin akan menipis sampai habis. 
Rasanya seumpama api membakar sekujur diri. 
Habis dilalap api, panas membakar dan kemudian mati. 

Semua akan kuletakkan tidak lebih tinggi dari kebahagiaanmu. 
Setinggi-tingginya rasa hormatku untukmu. 
Karna aku mencintaimu. 

Kasihku, Hiduplah dengan baik. Sebaik-baiknya. 

Jika nanti kita saling pergi dan tak punya jalan untuk kembali. 
Jangan ingat hari dimana kita hancur. 
Tolong ingat senyum kita hari itu saja. 
Hari dimana kita saling bertelanjang hati. 
Mengakui, ada rasa mengalir jauhhhhh dalam nadi ; 
Siapa sangka, hati kita terpaut. 
Bahkan Jauh sekali dari apa yang kita bisa lampaui. 

Kita rayakan itu pada ciuman-ciuman pertama. 
Pada hati yang terpaut dan tak saling melepaskan. 
Setiap saat. 
Seperti jakarta hari jumat jam 7 malam, perayaan yang ramai, orang- orang bergembira menyambut waktu pulang. 

365 hari dimasa datang, adalah hari-hari kita menumpuk kerinduan, mungkin akan lebih rumit dari biasanya. 
Jika Tuhan ijinkan, kita akan saling bertekuk lutut sekali lagi, pada rasa cinta yang baik. 
Atau, kita akan saling berpelukan, melepas genggam tangan, menangis lagi kemudian mempercundangkan diri dan menyerah untuk yang ketiga kali. 

Lebih daripada itu, ku perjelas lagi. 
Kelak ada atau tanpa ada ragaku disisimu. 
Aku sesungguhnya ada di satu ruang sudut hatimu yang lain. 
Tidak terjamah, dan tersembunyi. 
Semoga abadi ia disana. 

Kelak, dalam sudut hatimu yang tak terjamah itu, tumbuhlah doa-doaku yang mengalir dalam darah dan nadimu, dalam setiap relung-relung dalam tubuhmu. 
Kelak kamu akan dilingkupi kebahagiaan dan kebaikan dari segala arah, segala macam bentuk keberuntungan yang ada dimuka bumi dan tak putus. 
Menyelinap ia, kemudian menetap disana. 
Dalam tubuhmu. 
Hidup bersamamu. 
Selamanya. 

Kenanglah aku sebagai aku. 
Gadis riuh penuh dengan ambisi, yang akan mendampingimu sedekat nadi. 
Abadi. 
Cintanya. 
Dalam segala situasi 
Dan dalam hati. 
Aku adalah ia yang cintanya tak hingga. 
Yang kasih sayangnya serupa teh bikinan ibu, hangat disesap dan manisnya tak habis. 

Abadilah ia, cintaku disisimu. 

 Yogyakarta, 2024

Komentar

Postingan Populer